Cerita Padi

Kata ibu beras Kedungpring sekarang kurang enak. Beliau lahir waktu negeri ini baru merdeka. Dan sampai saat ini ibu masih menyuruh orang untuk bertanam padi Maro dengan orang desa (bagihasil).Jadi aku pastikan ibu tahu betul beras lokal sebelum era swasembada beras tahun 1980 an. Jenis padi lokal beda fisiknya …yaitu lebih tinggi dari padi pemerintah. Kelihatan kalau panen petani tidak perlu membungkuk bungkuk. Kalau padi yang umum sekarang setinggi anak kecil.
Yang beda juga rasanya lebih joss…baunya enak kalau dimasak. Orang desa menyebutnya dengan nama Pari Jero. Mungkin karena akarnya dalam. Padi itu kalah atau dikalahkan oleh padi bibit pemerintah…mati. Berdasarkan teori yang aku dapat…padi baru ini mengandung virus yang akan membunuh selain padi itu…jahatnya industri. Padi lokal yang tahan hidup adalah padi ketan. Padi ketan sama tingginya dengan Pari Jero. Orang desa menggunakan ketan untuk snack upacara pernikahan..sunatan.. seperti bikin jenang…wajik…ulen. Yang mirip lokal itu orang desa ambil bibit padi thailand…mirip dengan lokal. Jadi siapa bilang produk lokal itu kontet? Petani dulu menyiapkan bibit dengan memilih satupersatu dari bibit yang paling bagus tumbuhnya. Sebuah usaha yang sangat melelahkan.

Hmm…gambar di atas adalah mbah buyutnya anakku…dengan tinggi badan 165…berat 60…yah keras dan sterk badannya hitam dan kadang terlihat kilatan warna perak kalau sedang dibawah sinar matahari …diumurnya yg kala itu 60 70 an. Mbah putri suka ngajak ‘matun’ disawah…yaitu kegiatan mencabut rumput yg tumbuh disela padi…yang mana selalu aku jawab dengan nada tanpa motifasi….njih mbah…dan lebih memilih mancing grameh di kolam mbah dan berharap merasakan nikmatnya mangut grameh dimasak mbah putri di tungku dibakar pakai kayu bakar….baunya harum segar dan bikin badan setrong begitu..

Nama yang masih terkenal untuk padi lokal adalah Rojolele katanya masih ditanam di daerah Delanggu Klaten. Dan setahuku padi lokal harusnya ditanam juga oleh penduduk asli suku Baduy…karena mereka anti “Modernisasi” (mungkin ini juga berarti Modarisasi). Sebenarnya bukan anti anti begitu tapi lebih ke mempertahankan warisan kearifan lokal yang lebih menyehatkan diri dan alam.

Aku bertanya…apakah di petani menggunakan pestisida semprot? Ya pasti jawab beliau…

Petani tetaplah sehat sehat karena berimbang antara olah fisik dan asupan udara segar…mungkin tidak demikian akibatnya jika dikonsumsi orang kota. Kakekku hidup sampai umur 90 ~100 tahunan dan memorinya baik sampai wafatnya. Tipikal orang jaman dulu.

Teori bisnis yang mungkin diciptakan adalah…

Beras beracun akibat pestisida ~ umur 30 keatas kena penyakit kanker diabet stroke dll ~  dokter dan industri obat laris manis

Yang nomer 1 dan 3 itu urusan duit besar semua….dan lari keluar negeri…setahuku perusahaan Yahudi….yang nomer 2 itu kita…bagian sakit dan keluar uang….gak usah bicara ketahanan fisik rata rata bangsa kita lah yang harapan hidupnya rendah dibawah 60 tahun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s